jump to navigation

Hati, Roh, Nafsu dan Akal

Untuk mengetahui seluk beluk hati, maka perlu diketahui bahwa definisi dari keempat istilah tersebut di atas. Hanya sedikit dari para ilmuwan terkemuka yang memahami pengetahuan tentangnya, batas-batasnya, dan apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut.

Pertama, Hati. Lafal al-qalbu “hati” mengandung dua arti yaitu: pertama: daging yang berbentuk bulat terletak di dalam dada sebelah kiri dan di dalamnya terdapat rongganya terdapat darah hitam; Ia adalah sumber roh dan tempat tinggalnya yang biasa disebut jantung hati. Hati yang dimaksud dalam pengertian ini tidak akan dibahas disini; karena hanya para dokterlah yang mengetahuinya dan tidak ada kaitannya dengan maksud-maksud keagamaan. Hati dalam pengertian ini terdapat pada hewan, bahkan pada orang mati sekali pun. Kedua: Ia adalah bisikan bercorak ketuhanan (rabbani) dan kerohanian (ruhaniyyah). Hati dalam pengertian inilah hakikat manusia. Ia dapat merasakan, mengetahui, dan mengenal diri dari manusia. Hati dalam pengertian inilah yang banyak dibicarakan orang.

Kedua, Roh. Istilah “roh” juga mengandung pada dua pengertian yaitu: pertama: roh alami (nyawa) yaitu asap halus yang sumbernya adalah darah hitam di dalam rongga jantung, adalah daging sanubari yang tersebar ke seluruh tubuh melalui perantaraan urat-urat yang memanjang. Perumpamaan aliran roh dalam tubuh sebagai pembanjiran cahaya hidup, perasaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman darinya pada anggota-anggotanya; adalah ibarat cahaya lampu yang memenuhi sudut-sudut rumah. Cahaya tidak sampai pada sebagian rumah melainkan terus disinarinya dan hidup bagaikan cahaya yang menimpa dinding dan nyawa seperti lampu. Berjalannya nyawa dan bergeraknya dalam batin bagaikan bergeraknya lampu di sudut-sudut rumah yang digerakkan oleh penggeraknya. Itulah yang dimaksud para dokter dengan nyawa; yaitu uap halus yang dimasak oleh gelegak hati.

Pengertian kedua, bisikan rabbani yang merupakan makna hakikat hati. Roh (nyawa) dan jantung (hati) mempunyai persamaan dengan arti bisikan itu. Itulah yang dikehendaki oleh Allah SWT dengan firman-Nya: “… Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhanku…” [QS Al-Isra’ 17: 85]

Roh dalam pengertian ini adalah masalah ketuhanan tidak diketahui hakikatnya oleh kebanyakan manusia.

Ketiga, Nafsu. Istilah ini mengandung beberapa pengertian, yaitu: Pertama, yang dimaksud dengan dua pengertian ini ialah pengertian yang mencakup antara gejolak marah dan nafsu syahwat pada diri manusia. Istilah ini biasanya dipegunakan oleh para ahli tasawwuf. Sebab, yang mereka maksudkan dengan nafsu (nafs) adalah pokok yang memadukan sifat-sifat yang tercela pada diri manusia. Lalu mereka menyatakan bahwa tidak boleh tidak nafsu harus dilawan dan dihancurkan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada di antara dua lambungmu”

Kedua, bisikan rabbani yang merupakan salah satu makna roh, hati dan jiwa pula. Ia adalah hakikat manusia yang membedakannya dari hewan. Apabila ia tenang, terkendali dan jauh dari keguncangan karena pengaruh nafsu syahwat, maka ia dinamakan nafs muthmainnah (diri atau jiwa yang tenang). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” [QS Al-Fajr, 89:27-28]

Jiwa (nafsu) dalam pengertian pertama di atas, tidak tergambar kembalinya kepada Allah SWT, karena ia menjauh dari Allah dan temasuk ke dalam kelompok setan. Bila ketenangannya tidak sempurna, malah ia menjadi pendorong terhadap nafsu syahwat dan penentangnya, maka nafsu ini dinamakan nafs lawwamah (jiwa yang tercela). Hal ini disebabkan karena jiwa itu mencela tuannya ketika lalai dalam menyembah Tuhannya. Allah SWT berfirman: “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” [QS Al-Qiyamah, 75:2]

Bila nafsu meninggalkan sikap menentang, tunduk dan patuh kepada kehendak nafsu syahwat dan panggilan setan, maka ia dinamakan nafsu yang tunduk kepada kejahatan (an-nafs al-ammarah bis-su’i). Allah SWT, dalam menceritakan tentang Yusuf AS, berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu selalu mengajak kepada keburukan…” [QS Yusuf, 12:53]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: